KUKAR: Pemerintah mulai mematangkan rencana penggunaan tabung Compressed Natural Gas (CNG) berkapasitas 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG subsidi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan cadangan gas bumi yang melimpah di Indonesia.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman, sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah masih melakukan kajian aspek keselamatan penggunaan tabung CNG. Kajian tersebut dilakukan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) dan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar tiga bulan.
Selain menjamin keamanan, pemerintah juga memastikan tabung CNG nantinya tetap praktis digunakan masyarakat. Tabung akan dirancang agar kompatibel dengan kompor rumah tangga yang saat ini menggunakan LPG, sehingga masyarakat tidak perlu mengganti peralatan memasaknya.
Direktur Utama PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) Kukar, Efri Novianto, menilai kebijakan tersebut merupakan langkah strategis karena Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, memiliki potensi gas alam yang sangat besar.
Menurutnya, bahan baku pembentuk LPG didominasi unsur hidrokarbon C3 dan C4, sementara cadangan gas di Kalimantan Timur justru lebih banyak mengandung metana (C1) dan etana (C2). Kondisi tersebut membuat pemanfaatan gas alam menjadi CNG dinilai lebih sesuai dengan potensi sumber daya yang dimiliki daerah.
“CNG dibuat dengan cara mengompres gas alam ke dalam tabung bertekanan tinggi. Karena itu tabungnya harus memiliki spesifikasi yang lebih kuat, menggunakan pelat yang lebih tebal dan kemungkinan dilengkapi lapisan fiber sehingga ukuran maupun bobotnya lebih besar dibanding tabung LPG 3 kilogram,” jelas Efri Rabu (1/7/2026).
Ia memperkirakan isi tabung CNG tetap setara 3 kilogram, namun berat tabung kosongnya bisa mencapai hampir dua kali lipat dibanding tabung LPG karena harus mampu menahan tekanan gas yang tinggi.
Efri mengatakan MGRM juga tengah mempersiapkan langkah untuk mendukung program pemerintah tersebut. Perusahaan telah mengajukan permohonan alokasi gas dari pengembangan Blok North Ganal yang baru diumumkan pemerintah memiliki cadangan sekitar 5 triliun kaki kubik (TCF).
Apabila alokasi tersebut disetujui, MGRM berencana membangun fasilitas mini LNG serta pabrik CNG untuk memasok kebutuhan energi, baik bagi program konversi LPG maupun sektor industri di Kalimantan Timur.
“Kami hanya mengajukan sebagian kecil dari total produksi gas. Nantinya akan dimanfaatkan untuk pembangunan mini LNG dan CNG plant sebagai bagian dari dukungan terhadap program pemerintah mengalihkan penggunaan LPG ke CNG, sekaligus memenuhi kebutuhan energi industri,” ujarnya.
Selain mendukung kemandirian energi nasional, Efri menyebut penggunaan CNG juga berpotensi memberikan penghematan biaya energi bagi masyarakat. Berdasarkan sejumlah kajian yang ia pelajari, penggunaan CNG diperkirakan dapat menekan biaya hingga sekitar 30 persen dibandingkan LPG.
Meski demikian, ia mengakui penggunaan tabung CNG yang berukuran lebih besar dan lebih berat akan berdampak pada distribusi. Jumlah tabung yang dapat diangkut dalam satu kendaraan diperkirakan akan berkurang, namun hal itu dinilai sebanding dengan manfaat jangka panjang berupa pengurangan impor LPG dan optimalisasi pemanfaatan gas bumi dalam negeri. (and)

















