Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa dan Jurnalis Kukar Soroti Isu Lingkungan dan Hak Masyarakat Adat

296
×

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa dan Jurnalis Kukar Soroti Isu Lingkungan dan Hak Masyarakat Adat

Share this article
Kegiatan Nobar Film Pesta Babi di Unikarta (Dok.SMSI Kukar)
Kegiatan Nobar Film Pesta Babi di Unikarta (Dok.SMSI Kukar)
Example 468x60

KUKAR: Wahana Mahasiswa Pecinta Alam (Wamapala) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kutai Kartanegara, kembali menggelar nonton bareng film dokumenter “Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita” di food court Unikarta, Sabtu (9/5/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung sederhana dengan layar putih, proyektor, speaker, serta suguhan kopi dan pangan rebusan itu menghadirkan ruang diskusi kritis bagi mahasiswa, jurnalis, dan masyarakat muda Kukar terkait isu lingkungan, pembangunan, serta hak masyarakat adat.

Selama sekitar 90 menit, peserta menyaksikan dokumenter karya jurnalis investigatif Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale yang menggambarkan perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan dalam menghadapi dampak ekologis dari proyek pembangunan skala besar, termasuk program pangan dan transisi energi.

Ketua SMSI Kukar, Angga Triandi, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif mahasiswa tersebut. Ia menilai persoalan yang diangkat dalam film memiliki relevansi kuat dengan berbagai dinamika pembangunan di Kutai Kartanegara maupun wilayah sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).

Menurut Angga, berbagai proyek pembangunan kerap memunculkan pertanyaan besar terkait dampaknya bagi masyarakat lokal, terutama mereka yang berada di sekitar wilayah konsesi atau kawasan strategis pembangunan.

“Seperti di sekitar IKN, masyarakat menyebut program belum memberikan solusi terhadap masyarakat yang terdampak. Di Kecamatan Kota Bangun Darat juga masyarakat adat menyuarakan terkait wilayah pangan dan lahan adat yang dikelilingi konsesi tambang,” ujarnya.

Ia menegaskan, media memiliki peran strategis sebagai kontrol sosial dalam menyuarakan aspirasi masyarakat serta mengawal isu lingkungan agar tidak tenggelam di tengah narasi pembangunan.

“Karena pada dasarnya ini adalah tugas kita sebagai penyambung lidah masyarakat melalui produk jurnalistik kita,” tegasnya.

Ketua Wamapala Unikarta, Almadani, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum refleksi bagi generasi muda Kukar agar lebih sadar terhadap ancaman ekologis yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, isu lingkungan bukan lagi persoalan jauh yang hanya terjadi di wilayah tertentu, melainkan dapat berdampak langsung terhadap masa depan masyarakat Kukar.

“Semoga melalui nobar ini seluruh pemuda di Kukar dapat lebih peduli terhadap isu lingkungan,” katanya.

Diskusi pasca pemutaran film berlangsung dinamis. Ketua BEM Unikarta, Zulkarnain, menilai film tersebut menjadi pengingat bahwa alam dan ruang hidup masyarakat tidak semestinya dikorbankan demi kepentingan ekonomi segelintir pihak.

“Ironis jika apa yang menjadi hak masyarakat justru diambil guna menguntungkan segelintir orang,” ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan wartawan muda Komparasinews.id, Habib Fajar Saputra. Ia menilai apa yang terjadi di Papua dapat menjadi refleksi penting bagi masyarakat Kukar agar lebih kritis dalam menyikapi kebijakan pembangunan.

“Apa yang terjadi di Papua bisa saja terjadi di kita. Maka kita mesti membuka lagi wawasan kita untuk terus sadar dan peduli terhadap lingkungan kita dan mengontrol semua kebijakan pemerintah,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan insan pers di Kukar menegaskan bahwa persoalan lingkungan, ruang hidup, dan keberlanjutan adalah isu bersama yang perlu terus diperjuangkan, dari Papua hingga Kalimantan. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *