BALIKPAPAN: Komitmen Kota Balikpapan dalam membangun masyarakat inklusif mendapat perhatian internasional. Duta Besar (Dubes) Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, melakukan kunjungan ke Kelurahan Telagasari, Kecamatan Balikpapan Kota, Jumat (24/4/2026), untuk melihat langsung praktik pemberdayaan penyandang disabilitas di tingkat komunitas.
Dalam kunjungan tersebut, Brazier berdiskusi bersama Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) sekaligus meninjau hasil karya para anggotanya. Berbagai produk seperti kerajinan tangan, tas, pakaian, hingga syal dipamerkan, menunjukkan kreativitas sekaligus kemandirian ekonomi komunitas difabel di Balikpapan.
“Terima kasih atas sambutannya. Saya sangat senang bisa berada di sini dan menerima sambutan yang hangat. Kita semua mendapatkan manfaat dari masyarakat yang inklusif, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama,” ujarnya.
Menurut Brazier, praktik inklusi di Balikpapan menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi dapat mendorong pemenuhan hak penyandang disabilitas. Ia mengaku banyak belajar dari pengalaman dan semangat yang ditunjukkan oleh komunitas difabel serta para pemangku kepentingan di daerah ini.
“Saya sangat terinspirasi. Inklusi di sini bukan hanya konsep, tetapi benar-benar diwujudkan dalam praktik nyata di masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti upaya pemerintah dan mitra lokal dalam menghadirkan fasilitas publik yang lebih ramah difabel, termasuk perbaikan akses di gedung kelurahan sehingga memudahkan masyarakat disabilitas memperoleh layanan.
Selain itu, Brazier mengapresiasi peran organisasi seperti SIGAB dan PPDI yang dinilai konsisten mendampingi komunitas difabel. Menurutnya, keberhasilan program inklusi di Balikpapan tidak lepas dari kemitraan yang kuat antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas.
Ia mengungkapkan bahwa Australia bangga dapat terlibat melalui program kemitraan inklusi dengan Indonesia. Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa pendanaan, tetapi juga penguatan sistem dan dukungan teknis bagi pemerintah serta organisasi lokal.

“Kami percaya pembangunan inklusif bukan hanya tentang akses, tetapi juga keadilan, pemberdayaan, dan pengakuan terhadap kontribusi semua warga negara,” tegasnya.
Ia menambahkan, salah satu hal yang paling mengesankan adalah keberlanjutan program serta dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat difabel di Balikpapan.
Pemerintah Australia berkomitmen kedepan untuk terus mendukung peningkatan akses terhadap pekerjaan yang inklusif, memperkuat partisipasi dalam proses pembangunan, serta mendorong organisasi difabel agar semakin berdaya.
“Kami berharap kolaborasi ini terus tumbuh dan memberikan dampak nyata, tidak hanya di Balikpapan tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia,” tutupnya.(las)

















