BALIKPAPAN: Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan memperkuat upaya deteksi dini gangguan pendengaran pada pelajar melalui program skrining nasional yang menyasar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga kualitas generasi muda di tengah tantangan era digital.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan World Hearing Day 2026, dengan fokus pada pemeriksaan awal untuk mendeteksi gangguan pendengaran sejak usia sekolah.
Ketua Tim Skrining Pendengaran Pelajar Balikpapan, dr. Erika Lukman, menjelaskan bahwa setiap provinsi ditargetkan memeriksa minimal 200 pelajar. Di Kalimantan Timur, kegiatan dipusatkan di dua sekolah, yakni SMP Negeri 27 Balikpapan dan SMP Negeri 2 Balikpapan.
“Data dari seluruh daerah akan dihimpun menjadi basis nasional untuk melihat kondisi pendengaran anak sekolah di Indonesia,” ujarnya, pada hari Kamis, 9 April 2026.
Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan diklasifikasikan menjadi normal dan abnormal. Untuk kasus ringan seperti penumpukan kotoran telinga, penanganan dapat langsung dilakukan di lokasi.
“Jika hanya karena kotoran telinga, bisa langsung dibersihkan dan diperiksa ulang. Anak bisa kembali belajar dengan optimal,” jelasnya.
Proses skrining sendiri berlangsung cepat, sekitar 10 menit per anak, serta menggunakan metode yang aman dan tidak menimbulkan rasa sakit.
Namun, di balik kemudahan teknologi, terdapat ancaman baru bagi kesehatan pendengaran anak. Penggunaan perangkat audio seperti earphone dengan volume tinggi dan durasi panjang dinilai berisiko merusak pendengaran secara permanen.
“Gunakan headset dengan volume di bawah 50 persen dan tidak lebih dari 60 menit. Kerusakan akibat kebisingan bisa bersifat permanen,” tegas dr. Erika.
Hal senada disampaikan Asisten III Pemkot Balikpapan, Dr. Andi Sri Juliarty, yang menekankan pentingnya pendengaran dalam proses belajar.
“Pendengaran adalah fondasi utama pembelajaran. Gangguan sekecil apa pun bisa berdampak pada pemahaman materi hingga interaksi sosial anak,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sekitar 15 hingga 20 persen anak mengalami masalah pendengaran ringan seperti impaksi serumen. Selain itu, risiko Noise Induced Hearing Loss juga meningkat seiring penggunaan perangkat audio yang tidak terkontrol.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemkot Balikpapan, Kementerian Kesehatan, dan PERHATI-KL. Pelaksanaannya didukung teknologi digital seperti aplikasi Screen-H yang memungkinkan pemeriksaan cepat dan akurat.
Pemkot Balikpapan memandang skrining ini sebagai investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
“Ini bukan sekadar pemeriksaan kesehatan, tetapi bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi. Anak dengan pendengaran yang baik akan lebih siap belajar dan berkembang,” tambahnya.
Melalui sinergi lintas sektor, program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pelajar, sekaligus memperkuat komitmen Balikpapan sebagai kota yang sehat, nyaman, dan berdaya saing.(las)

















