Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NASIONAL

Wamenkeu Suahasil Nazara Paparkan Peluang Ekonomi di Balik Dekarbonisasi

205
×

Wamenkeu Suahasil Nazara Paparkan Peluang Ekonomi di Balik Dekarbonisasi

Share this article
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, Leaders Talk Pertamina International Shipping bertajuk “The Fiscal Economics of Decarbonization: What It Means for Indonesia's Shipping Industry”. (Dok. Kementerian Keuangan)
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, Leaders Talk Pertamina International Shipping bertajuk “The Fiscal Economics of Decarbonization: What It Means for Indonesia's Shipping Industry”. (Dok. Kementerian Keuangan)
Example 468x60

JAKARTA – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, menegaskan bahwa dekarbonisasi bukan sekadar tantangan bagi industri, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui efisiensi, pembiayaan, investasi, dan peningkatan daya saing. Hal tersebut disampaikan Wamenkeu dalam Leaders Talk Pertamina International Shipping bertajuk “The Fiscal Economics of Decarbonization: What It Means for Indonesia’s Shipping Industry”.

Menurut Wamenkeu Suahasil Nazara, arah kebijakan menuju ekonomi rendah karbon perlu dipahami dunia usaha sebagai bagian dari perubahan lanskap ekonomi global.

“Dekarbonisasi yang kita canangkan dan kita pahami, kita yakini harus kita lakukan karena kita ingin mewariskan dunia yang lebih baik itu bukan penghambat pertumbuhan, bukan penghambat kegiatan ekonomi, tetapi sebenarnya dia adalah potensi dari kegiatan ekonomi baru,” jelas Wamenkeu.

Lebih lanjut, Wamenkeu Suahasil Nazara menyampaikan pemerintah terus membangun ekosistem tersebut melalui berbagai instrumen kebijakan fiskal, antara lain carbon pricing, insentif perpajakan untuk teknologi rendah emisi, skema de-risking, serta pembiayaan berkelanjutan seperti Green Sukuk, Blue Bonds, dan SDG Bonds.

Di sisi lain, Wamenkeu menilai pengembangan pasar karbon domestik masih perlu diperkuat. Indonesia telah memiliki Bursa Karbon sejak 2023, namun perlu terus didorong agar memiliki likuiditas, integritas, dan mekanisme price discovery yang lebih baik.

“Karbon yang diproduksi di Indonesia idealnya juga dijual di Indonesia dan demand di Indonesia itu enggak kurang-kurang,” ungkap Wamenkeu.

Secara khusus pada industri pelayaran, Wamenkeu mendorong agar kebijakan dekarbonisasi diterjemahkan menjadi strategi bisnis dan keunggulan kompetitif. Perusahaan perlu melihat peluang dari investasi teknologi rendah emisi, efisiensi operasional, pembiayaan hijau, serta meningkatnya kebutuhan pelanggan terhadap layanan transportasi rendah karbon.

“Agenda untuk di level perusahaan adalah bagaimana menerjemahkan signal kebijakan menjadi keunggulan daya saing,” ujar Wamenkeu.

Dalam paparannya, Wamenkeu Suahasil juga menekankan pentingnya bergerak lebih awal dalam menghadapi transisi rendah karbon.

“Saya yakin kalau bergerak lebih awal akan memberi perusahaan ruang yang lebih besar menangkap peluang efisiensi, peluang pembiayaan, dan peluang pasar dari transisi rendah karbon ini. Jadi, act now untuk masa depan yang lebih baik,” pungkas Wamenkeu Suahasil. (lh/al)

 

(Sumber: kemenkeu.go.id)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *