KUKAR: Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mengupayakan agar Memory of Yupa diakui sebagai memori kolektif bangsa dan warisan dunia. Langkah ini diwujudkan melalui beragam kegiatan pelestarian dan promosi budaya, salah satunya lewat penyelenggaraan Festival Memory of Yupa yang akan mencapai puncaknya bulan depan.
Plt Kepala Diarpus Kukar, Rinda Desianti, menyampaikan bahwa festival tersebut menjadi bagian penting dari proses promosi sekaligus salah satu syarat pengusulan Memory of Yupa ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
“Promosi ini kita lakukan melalui Festival Memory of Yupa. Harapannya, rangkaian kegiatan ini bisa menambah nilai dan memperkuat pengusulan agar Yupa dapat terdaftar sebagai memori kolektif bangsa,” ujarnya, Kamis (23/10/2025).
Lebih lanjut, Rinda menjelaskan bahwa proses pendaftaran ini juga mendapat dukungan dari Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) yang berperan dalam pengajuan tujuh prasasti Yupa ke UNESCO untuk diakui sebagai warisan dunia.
“Kalau Diarpus mengusulkan dari sisi arsip dan data Memory of Yupa, maka BPK menangani sisi fisiknya, yaitu tujuh prasasti Yupa yang kini disimpan di Museum Nasional, meskipun asalnya dari Muara Kaman,” jelasnya.
Ia menegaskan, dukungan masyarakat memiliki peran besar dalam memperkuat proses ini. Ia mengajak komunitas budaya, pegiat literasi, dan kelompok masyarakat untuk turut berpartisipasi melalui penandatanganan petisi.
“Kami sangat membutuhkan dukungan publik, karena Memory of Yupa ini sangat penting bagi sejarah bangsa. Petisi dan bukti dukungan masyarakat akan menjadi poin tambahan yang memperkuat pengusulan ke ANRI,” ungkapnya.
Menurutnya, Memory of Yupa juga menjadi pintu masuk bagi pengusulan situs-situs peradaban lain di Kukar agar mendapat pengakuan serupa.
“Ini baru langkah awal. Ke depan, kami akan mendorong agar situs-situs cagar budaya lainnya di Kukar juga bisa diusulkan sebagai memori kolektif bangsa,” tambahnya.
Tujuh prasasti Yupa ditemukan pada tahun 1879 di Bukit Brubus, wilayah pedalaman Muara Kaman. Prasasti tersebut menggambarkan kebijakan Kerajaan Mulawarman dalam memberikan penghargaan kepada tokoh agama, serta merekam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat kala itu.
“Memory of Yupa bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi merupakan tonggak awal peradaban Nusantara. Kami berharap pengakuan ini dapat memperkuat identitas bangsa sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya kita,” tutup Rinda.(*van)

















