Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
OLAHRAGA

Aturan Porprov Kaltim 2026, Atlet Peraih Emas PON Tak Bisa Bertanding

236
×

Aturan Porprov Kaltim 2026, Atlet Peraih Emas PON Tak Bisa Bertanding

Share this article
Atlet gulat Kukar saat meraih medali dalam ajang PON Bela Diri 2025 di Kudus, Jawa Tengah. (Dok. Gulat Kukar)
Atlet gulat Kukar saat meraih medali dalam ajang PON Bela Diri 2025 di Kudus, Jawa Tengah. (Dok. Gulat Kukar)
Example 468x60

KUKAR: Kebijakan yang melarang atlet peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) tampil pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026 mulai menuai sorotan dari sejumlah cabang olahraga (cabor) di Kutai Kartanegara (Kukar).

Meski aturan tersebut membuka kesempatan bagi atlet lain untuk bersaing, dukungan terhadap atlet yang telah mengukir prestasi nasional juga dinilai perlu mendapat perhatian.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar, Aji Ali Husni, menyebut terdapat satu atlet gulat Kukar yang tidak dapat berlaga di Porprov karena sebelumnya telah meraih medali emas PON.

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima dari KONI Kaltim, atlet yang telah memiliki prestasi juara di PON tidak diperbolehkan mengikuti kompetisi Porprov. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu disikapi dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan olahraga daerah.

“Dari informasi yang kami terima, atlet yang sudah menjadi juara di PON tidak diperbolehkan bertanding di Porprov. Kami juga sudah berkomunikasi dengan rekan-rekan gulat Kukar dan memang ada satu atlet yang harus absen karena sebelumnya meraih emas PON,” ujarnya, Sabtu (10/10/2026).

Ia menilai, aturan tersebut tidak semata-mata harus dipandang sebagai pembatasan. Kesempatan yang terbuka bagi atlet lainnya justru dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan kemampuan dan membuktikan hasil latihan selama ini.

Menurutnya, persaingan yang sehat menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Atlet yang belum meraih prestasi di tingkat nasional perlu mendapatkan ruang untuk berkembang, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri menghadapi kompetisi.

“Ini bisa menjadi momentum bagi atlet-atlet lain untuk membuktikan diri. Mereka punya kesempatan lebih besar untuk bersaing, meningkatkan kemampuan, dan mengejar prestasi terbaik di cabang olahraga masing-masing,” jelasnya.

Meski begitu, pembinaan atlet berprestasi tetap menjadi pekerjaan penting. Atlet yang sudah mencapai level nasional membutuhkan program latihan berkelanjutan agar kemampuan mereka tidak menurun dan tetap siap menghadapi pertandingan berikutnya.

Dispora Kukar berharap kebijakan tersebut dapat mendorong pemerataan prestasi tanpa mengesampingkan kebutuhan pembinaan atlet yang telah membawa nama daerah ke tingkat nasional.

Di sisi lain, Sekretaris Gulat Kukar, M. Juliharto, menyatakan pihaknya dapat menerima ketentuan yang diberlakukan. Namun, ia menilai perlu ada langkah lanjutan dari KONI Kaltim untuk memastikan atlet peraih medali emas PON tetap mendapatkan dukungan setelah tidak lagi diperbolehkan tampil di Porprov.

Menurut Juliharto, pencapaian medali emas merupakan hasil dari latihan panjang, pengorbanan, dan kedisiplinan atlet. Karena itu, upaya menjaga prestasi mereka semestinya tidak berhenti setelah keberhasilan diraih.

“Kami memahami dan menerima aturan tersebut. Namun, yang juga perlu dipikirkan adalah bagaimana KONI Kaltim memberikan perhatian berkelanjutan kepada atlet yang sudah meraih emas PON, supaya mereka tetap bisa menjaga performa dan tidak kehilangan motivasi untuk berprestasi,” ungkapnya.

Ia mengusulkan agar KONI Kaltim mempertimbangkan pemberian dana penunjang prestasi setiap bulan bagi atlet peraih emas PON. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan latihan dan membantu atlet menjalankan program pembinaan secara konsisten.

Juliharto menilai, atlet berprestasi membutuhkan dukungan nyata untuk mempertahankan kualitasnya. Tanpa pembinaan yang berkelanjutan, mempertahankan pencapaian di tingkat nasional tentu menjadi tantangan tersendiri.

“Jangan sampai atlet yang sudah berhasil membawa pulang emas justru kesulitan mempertahankan prestasinya karena kurangnya dukungan. Kami berharap ada skema dana pembinaan bulanan yang bisa membantu kebutuhan latihan mereka,” tegasnya.

Ia menambahkan, usulan tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan atas prestasi yang telah diraih, melainkan juga upaya mempersiapkan atlet agar mampu kembali bersaing pada PON berikutnya.

Dengan adanya dukungan yang berkesinambungan, atlet diharapkan memiliki motivasi lebih kuat untuk menjaga kondisi fisik, meningkatkan kemampuan teknik, serta mempertahankan target prestasi.

“Harapan kami, atlet yang sudah meraih emas PON tetap mendapat perhatian melalui program pembinaan yang jelas. Dengan begitu, mereka bisa terus berlatih secara terarah dan mempunyai target untuk kembali mempertahankan medali emas pada PON mendatang,” pungkasnya. (Van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *