KUKAR: Stand Up Comedy Tenggarong tak mau kembali tenggelam. Setelah sempat vakum, komunitas ini kembali menghidupkan panggung komedi di Tenggarong melalui open mic rutin. Namun, di balik geliat para komika, mereka masih menghadapi pekerjaan rumah besar: menarik lebih banyak penonton sekaligus menjaga regenerasi agar komunitas tidak kembali mati suri.
Open mic kembali digelar di Haha Cafe, Rabu (7/10/2026) malam. Sejumlah komika tampil menguji materi di hadapan penonton, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat yang ingin mencoba stand up comedy.
Ketua Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong, Muhammad Zakaria Alfarizi, mengatakan antusiasme penonton mulai menunjukkan perkembangan. Bahkan, beberapa penonton datang dari luar daerah, termasuk Samarinda.
“Alhamdulillah, saya senang dengan banyaknya penonton yang hadir. Ada juga beberapa orang dari Samarinda. Harapannya ke depan bukan hanya dari Samarinda, tetapi masyarakat Tenggarong sendiri semakin banyak yang ikut menonton,” ujarnya.
Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitar 14 anggota. Sejumlah anggota baru yang bergabung sekitar tiga bulan terakhir bahkan sudah mampu menyiapkan materi komedi sekitar lima menit.
Menurut Zakaria, open mic tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang bercita-cita menjadi komika. Panggung tersebut juga menjadi tempat bagi masyarakat untuk melatih kemampuan berbicara di depan publik maupun menuangkan pengalaman dan keresahan dalam bentuk humor.
“Kami terbuka untuk umum. Misalnya ada yang ingin belajar public speaking atau hanya ingin menyampaikan keluh kesah, bisa disampaikan melalui open mic. Untuk usia juga terbuka, mulai SMP, SMA hingga mahasiswa,” katanya.
Open mic dijadwalkan berlangsung setiap Rabu malam mulai sekitar pukul 20.00 Wita. Meski rutin digelar, komunitas mengakui jumlah penonton dan penampil belum selalu stabil.
Dalam beberapa kegiatan, komika yang tampil dapat mencapai lima hingga enam orang.
Namun, jumlah penonton terkadang masih terbatas hanya beberapa meja.
Tantangan tersebut tidak membuat komunitas berhenti. Mereka justru ingin memperluas jangkauan stand up comedy agar tidak hanya berkembang di Tenggarong, tetapi juga dikenal di berbagai wilayah Kukar.
Geliat tersebut mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar. Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pihaknya telah lama mengamati perjalanan komunitas tersebut.
Zikri menyebut Stand Up Comedy Tenggarong sebelumnya sempat vakum. Kini, komunitas kembali aktif dan berkembang secara mandiri tanpa mengandalkan pembiayaan APBD.
“Memang komunitas ini sudah lama kami perhatikan. Sempat vakum, kemudian mulai kembali berkarya dan mendapat atensi dari kami. Mereka juga tumbuh secara mandiri tanpa pembiayaan APBD, sehingga kami sangat mengapresiasi semangat komunitas ini,” kata Zikri.
Dispar Kukar kini menyiapkan sejumlah skema untuk memperkuat komunitas, terutama dari sisi kapasitas dan kualitas materi komedi. Penguatan tersebut diharapkan membuat para komika semakin solid sekaligus mampu menarik lebih banyak penonton.
Zikri menilai stand up comedy memiliki karakter berbeda dibandingkan hiburan biasa. Di balik materi yang terlihat sederhana dan mengundang tawa, seorang komika dituntut memiliki kreativitas, kemampuan mengamati persoalan, hingga melakukan riset.
“Ini komunitas yang saya bilang komedi cerdas. Ketika mengeluarkan materi, mereka pasti melakukan riset. Kami ingin komunitas ini bisa berkembang lagi di Tenggarong,” jelasnya.
Tak berhenti pada komunitas yang sudah ada, Dispar Kukar juga membidik regenerasi melalui program Ekraf Goes to School yang direncanakan mulai dikembangkan pada 2027.
Program tersebut akan membawa berbagai subsektor ekonomi kreatif ke sekolah, mulai dari film, fotografi, tari, musik hingga komedi. Selain memperkenalkan ekonomi kreatif kepada pelajar, program ini diarahkan untuk menemukan bibit-bibit baru.
“Kami mencoba skema menggabungkan Ekraf Goes to School untuk mencari bibit-bibit di sekolah. Nanti beberapa subsektor, seperti film, fotografi, tari dan musik, akan turun bersama-sama ke sekolah untuk mencari bibit baru,” ungkapnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif Kukar secara berkelanjutan. Bagi Stand Up Comedy Tenggarong, regenerasi menjadi penting agar panggung komedi tidak kembali kehilangan pemain.
Dengan open mic yang terus berjalan dan rencana pencarian bibit baru dari sekolah, komunitas ini kini tengah berusaha membuktikan bahwa panggung komedi lokal bukan sekadar tempat mencari tawa, tetapi juga ruang tumbuh bagi kreativitas dan talenta muda Kukar. (and)

















