Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NASIONAL

Kemenperin: Inovasi Jaga Batik Tetap Relevan bagi Generasi Masa Kini

210
×

Kemenperin: Inovasi Jaga Batik Tetap Relevan bagi Generasi Masa Kini

Share this article
Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia Syukur Idayati saat menjadi narasumber Community Engagement “Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan, dan Bertahan dalam Tradisi” di Surabaya. (Dok. Kementerian Perindustrian)
Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia Syukur Idayati saat menjadi narasumber Community Engagement “Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan, dan Bertahan dalam Tradisi” di Surabaya. (Dok. Kementerian Perindustrian)
Example 468x60

SURABAYA – Batik memiliki posisi penting dalam ekosistem industri dan budaya Indonesia. Di tengah perubahan preferensi konsumen dan perkembangan teknologi, batik memiliki peluang untuk hadir dalam bentuk yang semakin beragam, mulai dari produk fesyen siap pakai hingga bagian dari gaya hidup generasi masa kini, tanpa kehilangan nilai tradisi yang menjadi identitasnya.

Kementerian Perindustrian mencatat, batik telah memiliki ekosistem industri yang tersebar di berbagai daerah. Berdasarkan data Kemenperin, terdapat sekitar 5.946 industri batik dan lebih dari 200 sentra batik di 11 provinsi, dengan tenaga kerja mencapai sekitar 47 ribu orang. Kondisi tersebut menunjukkan batik memiliki peran tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan industri kreatif.

“Pengembangan batik ke depan perlu memperhatikan keterhubungan antara tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar,” ujar Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia Syukur Idayati saat menjadi narasumber Community Engagement “Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan, dan Bertahan dalam Tradisi” di Surabaya, Kamis (1/10).

Idayati menuturkan, nilai ekspor batik meningkat dari USD15,20 juta pada 2024 menjadi US$20,14 juta pada 2025 atau tumbuh 32,5 persen. Pada Semester – I 2026, nilai ekspor batik tercatat sebesar USD4,39 juta, dibandingkan USD5,09 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan produk dan pasar yang relevan dengan kebutuhan konsumen.

“Batik dapat dikembangkan ke dalam produk ready-to-wear, aksesori, maupun berbagai produk gaya hidup yang memiliki keterkaitan dengan rantai nilai fesyen. Pendekatan ini memungkinkan batik memiliki ruang yang lebih luas untuk menjangkau konsumen tanpa harus melepaskan karakter dan nilai budaya yang melekat pada proses pembuatannya,” katanya.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Teknologi dapat digunakan dalam eksplorasi motif, pengembangan desain, pemasaran, hingga perluasan akses pasar. Di sisi lain, prinsip keberlanjutan dapat diterapkan sejak tahap perancangan produk dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, serta keberlangsungan pelaku dan pengetahuan tradisional.

Perspektif tersebut sejalan dengan pengalaman Rumah Batik Jawa Timur yang telah menjalankan usaha batik tulis secara turun-temurun selama tiga generasi. Founder Rumah Batik Jawa Timur Syarif Usman menyampaikan, perkembangan digital dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi desain tanpa menggantikan proses utama dalam pembuatan batik tulis. “Digital bukan pengganti tradisi, tapi sebagai salah satu alat untuk menjaganya tetap hidup,” ujarnya.

Menurut Syarif, keberlanjutan batik juga berkaitan dengan regenerasi pelaku dan pengetahuan membatik. Rumah Batik Jawa Timur memberikan pelatihan batik tradisional kepada 700 sekolah dasar di Surabaya bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengenalan keterampilan dan nilai budaya batik kepada generasi muda.

Sementara itu, pendekatan terhadap fesyen kontemporer dilakukan oleh jenama lokal Ulur Wiji melalui konsep UpliftingWear. Ulur Wiji memadukan material alami, teknik kriya tradisional, dan desain kontemporer untuk menghasilkan produk fesyen yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.

“Kami juga melibatkan perempuan muda di komunitas perdesaan dalam pengembangan keterampilan kriya. Pendekatan ini mempertemukan penguatan kapasitas generasi penerus dengan pengembangan produk fesyen yang membawa karakter kriya Indonesia ke dalam bentuk yang lebih modern,” kata Founder & COO Ulur Wiji Nasta Rofika.

Kemenperin terus memacu pemanfaatan inovasi dan teknologi sebagai bagian dari pengembangan industri batik, termasuk dalam desain, produksi, dan pemasaran. Dengan demikian, batik tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus dihadirkan dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan gaya hidup dan kebutuhan generasi masa kini.

Melalui penguatan ekosistem tersebut, keberlanjutan industri batik diharapkan dapat berlangsung lintas generasi. Kemenperin juga aktif melibatkan generasi muda tidak hanya menjadi pengguna dan konsumen batik, tetapi juga memiliki peran dalam mengenal, mengembangkan, dan meneruskan pengetahuan serta nilai budaya batik kepada generasi berikutnya.

 

(Sumber: kemenperin.go.id)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *