KUKAR: Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat menjadi perhatian mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta).
Kemunculan berbagai teknologi baru dinilai bukan hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga berpotensi mengubah pola kerja hingga menggantikan sejumlah pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi bertajuk “Saat Zaman Berubah, Pemuda Harus Apa? Membaca Peran Generasi Muda untuk Daerah” yang digelar di Kantin Unikarta, Senin (28/9/2026) malam.
Kegiatan tersebut digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unikarta bersama BEM se-Kalimantan dan Forum Mahasiswa Hulu. Diskusi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membicarakan kesiapan generasi muda menghadapi perubahan zaman sekaligus melihat kontribusi yang dapat diberikan untuk kemajuan daerah.

Presiden BEM Unikarta, Zulkarnai, mengatakan perubahan teknologi tidak seharusnya membuat pemuda hanya menjadi penonton. Menurutnya, perkembangan AI dan otomatisasi pekerjaan harus menjadi dorongan bagi generasi muda untuk meningkatkan kemampuan sejak dini.
“Sekarang kita melihat perubahan yang begitu cepat. Bahkan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia mulai bisa dilakukan teknologi dan robot. Ini yang harus kita antisipasi,” ujarnya.
Ia menilai pemuda memiliki posisi penting karena akan menjadi kelompok yang menentukan arah pembangunan daerah pada masa mendatang. Karena itu, peningkatan kapasitas, kemampuan beradaptasi dan keberanian mengambil peluang menjadi hal yang tidak bisa ditunda.
Zulkarnai menyebut generasi muda merupakan iron stock atau cadangan penerus yang nantinya akan mengambil peran dalam berbagai sektor. Semakin produktif pemudanya, semakin besar pula peluang daerah berkembang.
“Kalau pemudanya hari ini produktif, punya kemampuan dan mau menciptakan sesuatu, tentu daerah juga akan ikut bergerak. Kita tidak ingin generasi muda hanya bergantung kepada sistem, tetapi mampu berdiri dan menghasilkan sesuatu sendiri,” tegasnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan menghadirkan sejumlah pandangan dari kalangan mahasiswa, politisi dan pengusaha muda. Perbedaan latar belakang tersebut membuat pembahasan tidak hanya berfokus pada ancaman teknologi, tetapi juga peluang yang dapat dimanfaatkan generasi muda.
Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Akbar Haka, menekankan pentingnya pemuda segera mengambil langkah tanpa menunggu perubahan semakin besar. Ia mengatakan waktu menjadi faktor penting karena masa depan pada dasarnya dibentuk dari keputusan dan tindakan yang dilakukan hari ini.
“Jangan sampai kita baru bergerak ketika perubahan sudah terlalu jauh. Sekecil apa pun langkah yang kita mulai hari ini, itu akan menentukan bagaimana kita menghadapi masa depan,” katanya.
Menurutnya, pemuda perlu memiliki gambaran yang jelas mengenai apa yang ingin dicapai dalam lima, 10, 20 hingga 30 tahun mendatang. Perencanaan tersebut diperlukan agar generasi muda tidak sekadar mengikuti arus perubahan.
Akbar juga menyoroti perkembangan AI yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak mahasiswa memandang teknologi tersebut sebagai sarana yang dapat membantu meningkatkan produktivitas.
“Sekarang kita punya alat baru yang luar biasa, yaitu teknologi digital. AI jangan langsung dilihat sebagai lawan. Justru kita harus belajar menggunakannya supaya teknologi itu menjadi alat untuk memperkuat kemampuan kita,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan diskusi seperti ini terus berkembang di kalangan mahasiswa. Menurut Akbar, pertukaran gagasan melalui dialog dan perdebatan sehat diperlukan untuk memperluas sudut pandang generasi muda dalam memahami persoalan daerah.
“Ruang seperti ini penting karena kita bisa saling menguji gagasan. Dari perbedaan pendapat itu, teman-teman mahasiswa bisa mendapatkan perspektif baru dan semakin terbiasa berpikir kritis,” ungkapnya.
Sementara itu, pengusaha muda sekaligus Ketua Satria Kukar, Muhammad Natsir Hidayat, yang juga menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tersebut, mengatakan mendorong mahasiswa agar tidak berhenti pada pembahasan dan gagasan. Ia meminta generasi muda berani menghasilkan terobosan yang memberikan dampak positif.
“Jangan pernah berhenti untuk melakukan perubahan. Kalau ada gagasan baru yang positif, jangan takut untuk mencoba dan membuat sebuah terobosan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, teknologi akan terus berkembang sehingga generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara tepat sesuai kebutuhan.
“Perubahan teknologi itu tidak bisa kita hindari. Yang penting bagaimana kita memanfaatkannya dengan cara yang positif dan tidak justru membuat kita tertinggal,” katanya.
Natsir berharap diskusi tersebut menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman. Ia mendorong agar gagasan yang muncul dalam forum dapat dilanjutkan melalui tindakan nyata.
“Setelah kegiatan ini selesai, jangan sampai semuanya kembali seperti sebelumnya. Kalau selama ini ada gerakan atau rencana yang terus ditunda, sekarang waktunya mulai dijalankan,” pungkasnya. (Van)

















