KUKAR: Angin kencang tiba-tiba menerjang Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (28/9/2026). Hembusan angin di atas Jembatan Kartanegara bahkan sempat membuat pengendara sepeda motor panik. Di sejumlah lokasi, pohon tumbang juga dilaporkan terjadi.
Fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kukar. Namun, masyarakat diminta tidak langsung menganggap kondisi ini sebagai tanda musim penghujan telah tiba.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Setianto Aji Nugroho, mengatakan hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir merupakan dampak dari operasi modifikasi cuaca (OMC) yang telah dilakukan selama kurang lebih dua pekan.
“Belum masuk musim hujan. Diperkirakan musim hujan masih sekitar pertengahan November. Jadi hujan yang terjadi sekarang ini merupakan efek dari modifikasi cuaca,” kata Setianto.
OMC tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kukar. Upaya penanggulangan dilakukan melalui operasi darat, water bombing menggunakan helikopter, serta modifikasi cuaca dengan pesawat.
Menurut Setianto, hujan yang turun saat ini belum merata. Sejumlah wilayah hanya mendapatkan hujan secara sporadis sehingga belum sepenuhnya mampu mengatasi karhutla yang masih terjadi, khususnya di kawasan gambut.
Salah satu wilayah yang masih menjadi perhatian adalah kawasan Muara Kaman. Kondisi lahan yang didominasi gambut membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan biasa.
“Yang masih signifikan itu di kawasan gambut. Kami berharap hujan bisa membantu karena kalau melalui operasi darat cukup berat untuk menjangkau lokasinya,” ujarnya.
BPBD Kukar telah menurunkan dua regu untuk melakukan penanganan dan pemantauan. Tim dari KPHP serta unsur kehutanan juga diterjunkan untuk membantu pengendalian api.
Setianto mengatakan pihaknya juga berkoordinasi dengan perusahaan di sekitar kawasan terdampak untuk membuat sekat agar api tidak merambat ke lokasi lainnya.
“Kami tetap pantau. Tim kita masih ada di sana. Kalau yang lain tinggal spot-spot saja, tetapi kawasan gambut ini memang cukup berat penanganannya,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Muara Kaman, Nadi Baswan, mengungkapkan tantangan penanganan karhutla di wilayahnya tidak hanya disebabkan luasnya kawasan yang terbakar, tetapi juga karakteristik lahan gambut.
Muara Kaman memiliki 20 desa yang wilayahnya tersebar luas. Untuk mempercepat pemantauan dan penanganan, pihak kecamatan membagi wilayah tersebut ke dalam empat posko.
Menurut Nadi, akses menuju sejumlah lokasi kebakaran sangat sulit. Petugas bahkan dapat terperosok hingga sepinggang ketika memasuki kawasan gambut yang memiliki lumpur dalam.
“Kalau di lahan gambut ini dekat memang dari sungai, tetapi kalau kita terjun bisa sepinggang karena lumpurnya cukup dalam. Kalau api belum sampai ke kampung atau permukiman, kami tangani semaksimal mungkin. Kalau sudah mendekati permukiman, kami langsung prioritaskan,” ujarnya.
Yang membuat penanganan semakin rumit, api di lahan gambut tidak selalu terlihat dari permukaan. Bara dapat bertahan di bawah tanah meskipun kobaran api di permukaan telah dipadamkan.
“Namanya gambut, mati di atas, di bawah masih makan. Kalau tidak digali sampai ke bawah, tidak akan benar-benar mati,” tegas Nadi.
Kondisi tersebut ditemukan di sejumlah wilayah, termasuk Desa Bukit Jering dan Sedulang. Api yang sempat dianggap padam bahkan dapat kembali muncul dan bergerak mengikuti arah angin.
Di Rantau Hempang, terdapat satu titik api besar yang disertai sejumlah titik api kecil. Sementara di Sedulang, sedikitnya terdapat tujuh titik api yang masih harus ditangani.
“Api itu bukan hanya yang terlihat oleh kita. Titiknya bisa berbeda-beda karena bara api bisa terbawa angin. Di Rantau Hempang yang besar satu, tetapi yang kecil-kecil juga cukup banyak, bisa tujuh sampai delapan titik,” katanya.
Untuk luas lahan yang terbakar, Nadi mengaku pendataan secara keseluruhan masih menghadapi kendala. Luasnya kawasan gambut membuat api maupun bekas kebakaran sulit terlihat secara kasatmata.
Salah satu kebakaran terluas terjadi di kawasan Bukit Jering dengan perkiraan luas lebih dari 100 hektare.
“Kalau mau dihitung betul-betul, bisa mencapai ribuan hektare. Tetapi memang sulit terlihat dan didata karena kawasan lahan gambut kita sangat luas,” ungkapnya.
Turunnya hujan di sejumlah wilayah Kukar kini menjadi harapan untuk membantu menekan karhutla. Namun, BPBD dan unsur terkait tetap melakukan pemantauan karena bara di bawah permukaan gambut masih berpotensi kembali menyala. (and)

















