KEMENAG – Salah satu cabang ilmu yang paling dekat dengan kehidupan manusia adalah ilmu kedokteran. Ia berbicara tentang tubuh, tentang kehidupan, tentang rasa sakit, dan tentang harapan manusia untuk sembuh. Sejak manusia mengenal kehidupan, sejak itu pula manusia mengenal penyakit dan ikhtiar untuk mengobatinya. Pada setiap zaman selalu ada orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk merawat kehidupan.
Dalam perspektif Islam, menjaga kehidupan merupakan salah satu amanah terbesar manusia. Kehidupan merupakan anugerah terbesar manusia yang patut dijaga dan disyukuri untuk berbuat sebanyak-banyaknya manfaat bagi orang lain. Bahkan, kehidupan itu sendiri adalah ayat Allah yang sangat agung. Di dalam tubuh manusia menyimpan begitu banyak rahasia yang belum seluruhnya mampu dijelaskan ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar memperhatikan dirinya sendiri. “Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 21). Ayat ini memang bukan teks kedokteran. Tetapi ia mengajarkan sebuah sikap ilmiah, yaitu memperhatikan, merenungkan, bertanya, dan terus mencari tahu tentang diri manusia.
Al-Qur’an juga disebut sebagai syifā’, obat atau penyembuh terhadap apa yang ada di dalam hati manusia (QS. Yunus [10]: 57). Ia memberikan petunjuk, ketenangan, dan orientasi kehidupan. Karena itu, ketika berbicara tentang hubungan Al-Qur’an dan ilmu kedokteran, kita perlu menempatkannya secara proporsional. Al-Qur’an bukan kitab kedokteran. Ia adalah kitab petunjuk yang menginspirasi manusia untuk membaca kehidupan dan menemukan kemaslahatan di dalamnya.
Islam memiliki tradisi keilmuan yang panjang. Di antara tokoh besar yang memberi sumbangan penting bagi perkembangan kedokteran adalah Ibnu Sina. Demikian pula Ibnu Rusyd yang memiliki perhatian luas terhadap kedokteran, filsafat, dan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Mereka menunjukkan bahwa dalam tradisi Islam, ilmu tidak selalu ditempatkan dalam kotak-kotak yang terpisah.
Bagi mereka, mencari ilmu tidak hanya berhenti untuk menguasai pengetahuan. Ilmu adalah jalan untuk memahami kehidupan. Dan memahami kehidupan pada akhirnya membawa manusia kepada kesadaran tentang kebesaran Allah.
Karena itu, menjadi dokter tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan mendiagnosis penyakit dan memberikan terapi. Seorang dokter berhadapan dengan manusia. Ia berhadapan dengan rasa sakit, kecemasan, harapan, bahkan ketakutan seseorang terhadap kematian. Di hadapan seorang dokter, tubuh manusia itu selain objek medis juga memiliki martabat yang harus dihormati.
Ilmu kedokteran mengajarkan kita tentang tubuh. Tetapi tubuh yang dipelajari itu sesungguhnya mengantarkan kita kepada pertanyaan yang lebih dalam, siapa yang menciptakan keteraturan luar biasa di dalam tubuh manusia?
Semakin kita mengenal anatomi tubuh, semakin banyak keajaiban yang kita temukan. Semakin kita memahami sel, organ, sistem saraf, dan mekanisme kehidupan, semakin terasa bahwa manusia sesungguhnya sedang membaca sebuah kitab besar bernama alam.
Di sinilah Al-Qur’an dapat menjadi sumber inspirasi bagi penelitian.
Saya mendorong kepada mahasiswa kedokteran di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Bukan dengan memaksakan setiap ayat menjadi teori kedokteran. Bukan pula dengan mencari-cari pembenaran ilmiah terhadap setiap ayat.
Al-Qur’an memberikan “hudan” atau petunjuk. Ia menumbuhkan cara pandang, membangun kesadaran, dan menghidupkan rasa ingin tahu. Ketika Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan dirinya, alam semesta, penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, serta berbagai fenomena kehidupan, sesungguhnya ia sedang membangunkan kesadaran manusia untuk tidak berhenti pada apa yang tampak.
Di sinilah agama dan sains tidak perlu dipertentangkan. Agama memberikan orientasi nilai dan arah moral. Sains memberikan metode untuk mengamati, meneliti, menguji, dan menemukan pengetahuan. Agama bertanya untuk apa ilmu digunakan; sains membantu manusia menemukan bagaimana sesuatu dapat dilakukan.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Seorang ilmuwan Muslim tidak harus memilih antara menjadi religius dan menjadi ilmuwan. Justru kedalaman spiritual dapat memberikan arah bagi pengembangan ilmu, sementara ilmu pengetahuan dapat memperkaya kedalaman perenungan keagamaan.
Mahasiswa kedokteran di PTKIN memiliki posisi yang sangat strategis. Mereka belajar anatomi, fisiologi, farmakologi, teknologi kesehatan, dan berbagai cabang ilmu kedokteran. Pada saat yang sama, mereka tumbuh dalam tradisi keislaman. Dua dunia ini jangan dipisahkan. Pertemukan keduanya dalam tradisi riset yang kuat dan berorientasi pada kemaslahatan.
Saya berharap dari kampus-kampus Islam lahir penelitian yang tidak hanya mengejar jumlah publikasi, tetapi juga menyentuh persoalan nyata kehidupan manusia. Penelitian tentang kesehatan masyarakat, kesehatan mental, teknologi kedokteran, lingkungan, nutrisi, penuaan, penyakit degeneratif, hingga etika kedokteran di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
Sebab kemajuan ilmu tidak boleh kehilangan arah kemanusiaannya.
Dokter masa depan bukan hanya mereka yang mampu mengobati penyakit. Lebih dari itu, mereka harus mampu memahami manusia secara utuh, tubuhnya, jiwanya, lingkungan sosialnya, dan tanggung jawabnya kepada Tuhan.
Jangan hanya menjadi dokter yang pandai mengobati penyakit. Jadilah ilmuwan yang mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui ilmu pengetahuan. Jadilah manusia yang ilmunya membuat semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.
Sebab, semakin dalam seseorang memahami kehidupan, semestinya semakin dalam pula kesadarannya tentang kebesaran Sang Pencipta.
Al-Qur’an memberi kita inspirasi.
Ilmu memberi kita jalan untuk melakukan ikhtiar dan pembuktian.
Dan kemanusiaan memberi kita tujuan.
Dari kampus-kampus Islam, semoga lahir generasi dokter dan ilmuwan yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, kuat risetnya, luhur akhlaknya, dan luas manfaatnya. Karena pada akhirnya, ilmu yang paling tinggi bukanlah ilmu yang membuat manusia merasa paling tahu. Melainkan ilmu yang membuat manusia semakin tahu bahwa di balik setiap pengetahuan, masih terbentang keluasan ilmu Tuhan yang tidak bertepi.
(Sumber: kemenag.go.id)

















