KUKAR: Kondisi salah satu akses jembatan kayu di wilayah Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menjadi perhatian warga. Sejumlah bagian jembatan terlihat mengalami kerusakan, sementara tanah di sekitar akses juga tampak retak dan mengalami penurunan.
Salah satu warga Muara Muntai Ilir, Arifs Japar Hasyim, mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena jembatan menjadi salah satu akses yang digunakan masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kerusakan pada konstruksi jembatan dan kondisi tanah di sekitarnya dikhawatirkan dapat mengganggu keamanan serta kenyamanan masyarakat yang melintas, terutama jika kondisi tanah terus mengalami pergeseran,” ujarnya Rabu (12/8/2026).

Pemerintah Desa Muara Muntai Ilir pun diharapkan dapat segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk penanganan, sekaligus memastikan akses masyarakat tetap aman digunakan.
Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Aspianur Sandi, menjelaskan bahwa kerusakan tanah seperti retakan dan longsoran dapat berkaitan dengan fenomena hidrometeorologi, termasuk dampak kekeringan.
Menurutnya, kondisi tanah yang mengalami kekeringan dalam waktu cukup lama dapat membuat struktur tanah menjadi lebih rapuh. Terlebih, sejumlah wilayah di sepanjang bantaran sungai telah mengalami pengikisan akibat aliran air selama bertahun-tahun.
“Ini bagian dari bencana hidrometeorologi. Bukan hanya tanah longsor, tetapi juga kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan,” jelasnya.
Aspianur mengatakan, longsor di bantaran sungai tidak selalu disebabkan hujan. Pada kondisi kemarau, tanah yang sebelumnya terus mengalami pengikisan oleh aliran sungai dapat kehilangan daya dukung ketika debit air menurun drastis.
“Ketika sungai kering, bagian bawah tanah yang sudah tergerus menjadi kosong. Kalau sebelumnya masih ada air yang menopang, saat kering daya sangganya berkurang sehingga bisa terjadi longsoran,” ungkapnya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan tanda-tanda awal pergerakan tanah. Retakan di permukaan tanah, pohon yang mulai miring, hingga bangunan yang mengalami perubahan posisi dapat menjadi indikasi yang perlu segera diwaspadai.
“Kalau sudah melihat ada retakan, pohon miring, atau bangunan di sekitar bantaran sungai yang mulai bergeser, segera laporkan kepada perangkat desa atau kecamatan agar bisa ditindaklanjuti secara teknis,” tegasnya.
Selain itu, Aspianur mengimbau masyarakat yang memiliki aktivitas maupun bangunan di sekitar bantaran sungai agar meningkatkan kewaspadaan. Beban tambahan di atas tanah yang sudah mengalami retakan dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya longsor.
Terkait kondisi akses di Muara Muntai Ilir, BPBD Kukar juga melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk melihat kemungkinan penanganan sementara, termasuk membuka jalur alternatif apabila akses utama sudah tidak memungkinkan dilalui.
“Kalau memang diperlukan jalan alternatif, nanti akan kita lihat apakah masih bisa dilalui secara darurat. Bisa saja membutuhkan alat berat seperti ekskavator atau bulldozer untuk membuka akses baru,” pungkasnya. (and)

















