KUKAR: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong digitalisasi pengelolaan data pendidikan melalui aplikasi Orbit. Inovasi yang dikembangkan Bidang Pendidikan Sekolah Dasar (SD) tersebut dirancang untuk mengintegrasikan data sekolah dalam satu platform.
Kepala Bidang Pendidikan SD Disdikbud Kukar, Abdul Gamal Aziz, mengatakan Orbit merupakan bagian dari aksi perubahan yang disusunnya dalam rangka mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklat PIM) III.
Menurutnya, inovasi tersebut berangkat dari persoalan pengelolaan data pendidikan yang selama ini masih tersebar. Melalui Orbit, data yang bersumber dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dihimpun dan diolah dalam satu sistem sehingga lebih mudah dianalisis dan diverifikasi.
“Data kita masih tersebar. Ketika nanti datanya sudah terintegrasi menjadi satu, tools-nya juga akan berkembang,” ujar Gamal Rabu (12/8/2026).
Saat ini, Orbit telah dilengkapi dashboard analisis yang dapat digunakan untuk melihat sebaran kondisi sekolah, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana.
Salah satu fungsi yang tengah dikembangkan adalah membantu proses verifikasi kondisi sarana dan prasarana sekolah. Data yang tercatat dalam Dapodik nantinya dapat dibandingkan dengan kondisi faktual di lapangan.
“Kadang di Dapodik kondisinya baik, tetapi dilaporkan rusak. Atau sebaliknya, kondisinya rusak tetapi tercatat baik. Itu masih terjadi. Makanya platform ini salah satunya menjadi alat bantu untuk verifikasi,” jelasnya.
Gamal menyebut, saat ini data Dapodik dari 492 sekolah dasar di Kukar telah masuk ke dalam sistem Orbit. Selanjutnya, data tersebut akan diverifikasi untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Selain pengelolaan dan verifikasi data, Orbit juga diarahkan untuk mendukung pengembangan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) BOSKAP secara daring. Untuk tahap awal, pengembangan tersebut telah diuji coba pada sejumlah sekolah.
“Target awal kami untuk RKA BOSKAP Online itu 50 sekolah dasar,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan Orbit dilakukan bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kukar. Pengembangan aplikasi tersebut tidak menggunakan anggaran khusus atau biaya tambahan, melainkan memanfaatkan tugas dan fungsi Diskominfo dalam pengembangan sistem informasi pemerintah daerah.
“Tidak berbiaya. Diskominfo sekarang sudah punya tupoksi untuk membuat aplikasi yang dibutuhkan dan mengintegrasikannya dengan aplikasi yang ada di Kukar,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Aplikasi Informatika (Aptika) Diskominfo Kukar, Ery Hariyono, menjelaskan Orbit dikembangkan untuk menghimpun data Dapodik dari masing-masing sekolah, khususnya jenjang SD, kemudian mengolahnya sesuai kebutuhan Disdikbud.
Ia menjelaskan, data utama tetap bersumber dari Dapodik. Sekolah tidak perlu melakukan penginputan ulang karena data dari Dapodik diekspor dan kemudian diimpor ke dalam Orbit untuk diolah lebih lanjut.
“Jadi mereka mengekspor data yang sudah dikelola masing-masing sekolah dari Dapodik, kemudian kita impor ke Orbit. Setelah itu datanya diolah di Orbit,” jelas Ery.
Data yang dihimpun mencakup informasi sekolah, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan. Dalam pengembangan berikutnya, Orbit juga digunakan untuk mendukung verifikasi sarana dan prasarana melalui pengecekan langsung ke lapangan, termasuk dokumentasi kondisi sekolah.
“Pengembangan pertamanya untuk verifikasi data sarana dan prasarana. Bidang SD melakukan verifikasi ke lapangan, termasuk foto dan segala macam, kemudian datanya disimpan dan dikelola di Orbit,” katanya.
Ery menambahkan, pengembangan terbaru juga mulai mengarah pada penginputan data RKAS untuk kebutuhan Bidang SD. Uji coba pengembangan tersebut telah dimulai pada awal pekan ini.
Meski saat ini masih berada pada tahap awal dan digunakan untuk kebutuhan internal Bidang SD, Orbit berpeluang dikembangkan untuk jenjang pendidikan lainnya. Setelah penerapan di tingkat SD berjalan optimal, sistem tersebut diharapkan dapat dikembangkan untuk jenjang SMP, SMA/SMK hingga PAUD.
“Ini masih tahap awal. Harapannya nanti bisa berkembang sesuai kebutuhan,” pungkasnya. (and)

















