Indonesia – Di ujung jemari para perempuan Desa Towale, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, benang-benang itu bergerak perlahan. Naik, turun, menyilang, lalu menyatu menjadi selembar kain yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan sebuah peradaban.
Suara alat tenun tradisional berdenting pelan, memecah keheningan pagi. Irama kayu yang saling beradu terdengar sederhana, tetapi bagi masyarakat Donggala, bunyi itu adalah denyut kehidupan. Selama denting itu masih terdengar, selama itu pula harapan bahwa warisan leluhur masih bertahan.
Namun waktu tak pernah berhenti. Tangan-tangan yang selama puluhan tahun setia menenun Buya Sabe kini mulai menua. Keriput di jemari para penenun menjadi penanda panjangnya perjalanan mereka menjaga tradisi. Di balik setiap motif yang lahir, tersimpan kecemasan yang sama: siapa yang akan melanjutkan pekerjaan ini ketika mereka tak lagi sanggup menggerakkan alat tenun. Kegelisahan itulah yang kini ingin dijawab Pemerintah Kabupaten Donggala.
Dalam pembukaan Buya Subi Festival 2026 di kawasan Pantai Karampuana, Desa Towale, Selasa (7/7/2026), Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala Rustam Efendi menyampaikan sebuah gagasan sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi masa depan tenun Donggala. Ia mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membuka jurusan khusus Tenun Donggala di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Kami meminta Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk membuka jurusan khusus Tenun Donggala di SMK yang siswanya adalah remaja putri,” katanya.
Usulan itu lahir dari kenyataan yang tak bisa diabaikan. Di Desa Towale dan Desa Limboro, dua sentra utama tenun Donggala, masih ada sekitar 200 penenun aktif. Mereka adalah penjaga terakhir sebuah pengetahuan yang diwariskan dari ibu kepada anak, dari nenek kepada cucu.
Sebagian besar dari mereka telah memasuki usia senja. Mata mereka mungkin mulai rabun. Punggung tak lagi setegak dahulu. Jemari yang dulu lincah kini bergerak lebih lambat. Untuk menghasilkan satu lembar kain, seorang penenun membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Dalam sebulan, seluruh penenun hanya mampu menghasilkan sekitar 400 lembar kain. Di balik angka itu, sesungguhnya ada sesuatu yang tak bisa dihitung dengan statistik yaitu kesabaran.
Menenun mengajarkan bahwa keindahan lahir bukan dari kecepatan, melainkan dari ketekunan. Satu helai benang yang keliru dapat mengubah keseluruhan motif. Karena itu, setiap kain Buya Sabe bukan sekadar hasil keterampilan tangan, melainkan juga latihan panjang tentang kesabaran, ketelitian, dan cinta pada tradisi. Barangkali itulah sebabnya Buya Sabe tak pernah sekadar menjadi kain. Ia adalah bahasa yang ditulis tanpa kata-kata.
Motif-motifnya menyimpan kisah tentang alam Donggala, tentang hubungan manusia dengan lingkungan, tentang kehidupan sosial yang dibangun di atas gotong royong, hingga tentang penghormatan kepada para leluhur yang mewariskan pengetahuan menenun lintas generasi.
Menurut Museum Sulawesi Tengah, tenun Donggala lahir dari perjumpaan budaya masyarakat lokal dengan masyarakat Bugis. Pertemuan dua tradisi itu melahirkan kekayaan motif dan teknik yang hingga kini masih dipertahankan melalui alat tenun bukan mesin.
Di era ketika mesin mampu memproduksi ribuan meter kain dalam sehari, para perempuan Donggala tetap memilih jalan yang lebih lambat, bukan karena mereka tertinggal zaman, melainkan karena ada nilai yang tak bisa dipercepat. Setiap tarikan benang adalah cerita. Setiap motif adalah identitas. Dan setiap kain adalah warisan yang hanya dapat lahir melalui kesabaran manusia.
Kesadaran itulah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Donggala tidak hanya berbicara tentang pelestarian budaya, tetapi juga masa depan ekonomi para penenun. Pemerintah mendorong pembentukan koperasi desa yang memiliki unit usaha kain tenun agar pemasaran menjadi lebih kuat dan kesejahteraan para perajin meningkat.
Langkah tersebut sejalan dengan semangat Buya Subi Festival 2026 yang merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Pemerintah Kabupaten Donggala, dan Eco Fashion Week Australia (EFWA). Melalui festival itu, tenun Donggala diperkenalkan bukan hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan fesyen berkelanjutan dunia.
Buya Sabe memang memiliki semua nilai yang kini dicari industri fesyen global. Dibuat secara manual, menggunakan bahan-bahan alami, minim limbah, dan sebagian besar diproduksi oleh perempuan yang menjaga tradisi sekaligus menghidupi keluarganya.
Yang ingin diwariskan bukan semata-mata kemampuan menggerakkan alat tenun, melainkan cara memandang kehidupan bahwa sesuatu yang bernilai memang membutuhkan kesabaran untuk diciptakan.
Suatu hari nanti, ketika para penenun sepuh tak lagi duduk di depan alat tenunnya, semoga denting kayu itu tidak ikut menghilang. Semoga telah ada tangan-tangan muda yang melanjutkan iramanya.
(Sumber: Indonesia.go.id)

















