KUKAR: Suasana haru dan penuh kehangatan mewarnai acara silaturahmi, temu kangen, dan ucapan syukur atas kembalinya mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari, ke Bumi Etam.
Kegiatan tersebut digelar di Lamin Pokant Takaq Pengrajin Tenun Ulap Doyo, yang terletak di Jalan Mangkuraja Gang 6, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Rabu (24/6/2026).
Kedatangan Rita Widyasari disambut antusias oleh masyarakat yang memadati lokasi acara. Kehadiran mantan orang nomor satu di Kukar itu mendapat sambutan hangat dari warga yang masih menaruh rasa hormat dan dukungan kepadanya.
Setibanya di lokasi, Rita Widyasari menjalani prosesi adat Dayak Benua berupa Tepung Tawar sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan secara adat.
Dalam prosesi tersebut, ia juga dianugerahi nama adat “Ringeng Ayaakng” oleh masyarakat Dayak Benua yang artinya Seseorang perempuan yang terkenal atau terhormat putri seorang pemimpin.
Usai prosesi adat, Rita disambut dengan tarian tradisional Dayak dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat yang hadir.
Rita mengaku terharu atas sambutan yang diberikan masyarakat Dayak Benua kepadanya.
“Saya mendapatkan undangan dari Bapak Kepala Suku Dayak. Alhamdulillah saya bahagia sekali bisa menginjakkan kaki di sini. Beliau baru pertama kali bertemu saya, tetapi sudah mengetahui program-program yang pernah saya jalankan, terutama dalam mendukung industri kreatif seperti yang ada di tempat ini,” ujarnya.
Menurut Rita, selama memimpin Kukar dirinya selalu berupaya mendorong pelaku kerajinan lokal agar mampu dikenal lebih luas hingga tingkat internasional.
“Saya memang selalu berusaha bagaimana kerajinan di Kukar ini dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga sampai ke mancanegara. Bahkan para pengrajin di sini pernah tampil di New York,” katanya.
Rita juga menyampaikan rasa syukur atas sambutan masyarakat yang menurutnya masih menunjukkan kasih sayang dan kedekatan emosional yang terjalin selama ini.
“Ternyata mereka bukan hanya mengingat, tetapi masih mencintai. Dan saya memang sangat mencintai mereka. Kami adalah dua pihak yang saling mencintai dan sulit dipisahkan,” tuturnya.
Terkait gelar adat yang diterimanya, Rita mengaku sangat menghargai penghormatan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Suku dan seluruh tokoh adat. Nama ini tentu diberikan melalui musyawarah bersama dan menjadi penghormatan yang sangat berarti bagi saya,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh masyarakat Kukar terus menjaga persatuan dan kebersamaan dalam keberagaman suku dan budaya.

Sementara itu, Ketua Adat Merendan Dayak Benua, Ipong Dale, menjelaskan bahwa pemberian nama adat kepada Rita Widyasari telah melalui pembahasan bersama para tokoh adat.
“Kami sudah berkompromi dan memproses nama yang paling baik untuk Bunda Rita, yaitu Ringeng Ayaakng. Ringeng berarti orang yang cantik, ramah, rendah hati dan suka menolong. Sedangkan Ayaakng berarti anak seorang kepala adat, anak orang besar atau anak para pejabat,” jelasnya.
Menurut Ipong, nama tersebut diberikan karena Rita dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat Dayak dan selama ini memberikan perhatian terhadap pelestarian budaya serta pengembangan kerajinan lokal.
Ia juga menyampaikan harapan besar masyarakat Dayak Benua terhadap Rita Widyasari di masa mendatang.
“Harapan kami sangat banyak. Namun yang paling besar, kami berharap Bunda Rita dapat menjadi pemimpin nomor satu di Kalimantan Timur. Itu harapan kami untuk memimpin masyarakat Kalimantan Timur ke depan,” pungkasnya. (*van)

















